Listrik Padam, Rezeki Mandek

Gak terasa udah hampir 3 bulan gak nulis, maklumlah lagi padat-padatnya kegiatan yang saya lakoni.
Kali ini saya akan mencoba membuat sebuah tulisan (tapi sebenarnya sih tanggapan) tentang keadaan listrik di Indonesia yang sering padam khususnya di Padang.
Emang sih udah 2 bulan berjalan masyarakat di Kota Padang ngalamin yang namanya pemadaman listrik bergiliran. Entah apa penyebabnya yang jelas masyarakat udah banyak yang dongkol dengan kejadian ini, terlebih lagi bagi mereka yang memiliki usaha yang notabenenya banyak tergantung dengan listrik ini.
Sebagai contoh, mereka memiliki usaha di bidang IT, semisal Warnet, trus usaha perbengkelan kecil-kecilan, trus Fotocopy, n lain-lainnya.
Mereka emang sangat bergantung dengan listrik ini, nah kalo listriknya padam paling lama 3 jam nah berapa kerugian yang mereka terima, jangankan untuk untung yang didapat, yang ada malah pelanggan lari semua….
Lain halnya bagi mereka yang punya dana cadangan untuk membeli perangkat genset, itu sih kalo punya dana cadangan kalo nggak…..(mo dicari kemana tuh…)
Kalo mo disalahin siapa juga yang mo disalahin, PLNnya yang mo disalahin….??
Sekarang coba kita ambil jalan tengahnya aja… (sebenarnya opsi-opsi yang diambil)
Opsi pertama kita nyalahin PLN, trus Pihak PLN gak bakalan mau disalahin begtiu ajakan….?! Mereka cuma bilang ini cuma kesalahan teknis (Generator di sana yang rusak, atau mesin di daerah sini yang macet) nah lho…..?? kemana tuh duit dilariin Pak….?!?! Hehehe just kidding….. Trus PLN ngomongnya banyak pelanggan yang nunggak bayar rekening listrik…., (lha malah balik ke masyarakatnya yang salah)
Opsi kedua, nyalahin pelanggan pengguna listrik. Emang sih banyak pelanggan yang nunggak bayar rekening, n lebih-lebih banyak yang lari karena gak sanggup bayar ujung-ujungnya listriknya diputusin, nah yang lebih parah lagi nih…. yang coba-coba ngakalin meteran Listriknya, (parah gak tuh) dari 2500w bisa-bisanya di catatan para pencatat meteran yang ketemu cuma 1500w, kemana tuh yang 1000w lagi….., ngabur atau emang di kaburin…..??
Nah kalo udah gini, yang jadi kambing hitam pasti deh siapa lagi kalo bukan PEMERINTAH……
Pusing…..Pusing…..Pusing….
Udah deh biarin mereka aja yang ngebahas semuanya…..
Kita balik lagi ke Pengusaha-pengusaha kecil n kelas menengah yang gak nyaman atas kejadian ini.
yang jelas udah banyak dari usaha-usaha kecil yang mengalami gulung tikar (kaya’ baru siap acara syukuran aja pake-pake gulung tikar segala) n nyaris gulung tikar…. karena omset mereka berkurang.
Yah palingan masyarakat cuma bisa pasrah n nrimo untuk kasus yang ini…..
Mudah-mudahan pemadaman listrik ini cepat berakhirnya, walaupun di kabarin sampai bulan September 2008 (wah lama juga yah, masih ada dua bulan lagi). Yo wies, sing sabar yo rek…..

PERBEDAAN KEUNGGULAN KOMPETITIF DENGAN KEUNGGULAN KOMPARATIF

Dalam kehidupan pemerintah, sering kali kita mendengar atau banyak orang menyebut adanya Keunggulan Kompetitif dan Keuanggulan Komparatif, untuk memahami kedua keunggulan ini, penulis mencoba memberikan pemahaman dan pengertian, seperti yang akan jelaskan dibawah ini :

1. Keunggulan Kompetitif
Menurut Tangkilisan (dalam bukunya Strategi Keunggulan Pelayanan Publik Manajemen SDM, 2003) bahwa Keunggulan Kompetitif adalah merujuk pada kemampuan sebuah organisasi untuk memformulasikan strategi yang menempatkannya pada suatu posisi yang menguntungkan berkaitan dengan perusahaan lainnya. Keunggulan Kompetitif muncul bila pelanggan merasa bahwa mereka menerima nilai lebih dari transaksi yang dilakukan dengan sebuah organisasi pesaingnya. Kemudian di dalam Kamus Bahasa Indonesia oleh Badudu-Zain (1994), dinyatakan bahwa keunggulan kompetitif bersifat kompetisi dan bersifat persaingan. Bertitik tolak dari kedua sumber diatas, kami berpendapat bahwa keunggulan kompetitif adalah keunggulan yang dimiliki oleh organisasi, dimana keunggulannya dipergunakan untuk berkompetisi dan bersaing dengan organisasi lainnya, untuk mendapatkan sesuatu, Contoh, perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang Perbankan, masing-masingnya bagaimana berusaha untuk menarik nasabah sebanyak-banyaknya dengan cara berkompetisi sesuai dengan keuanggulan yang dimilikinya.

2. Keunggulan Komparatif.
Pengertian Keunggulan Komparatif dapat dilihat pada kamus Bahasa Indonesia, oleh Badudu-Zain (1994), dimana komparatif diartikan bersifat perbandingan atau menyatakan perbandingan. Jadi keunggulan komparatif adalah suatu keunggulan yang dimiliki oleh suatu organisasi untuk dapat membandingkannya dengan yang lainnya. Dengan mengacu arti tersebut, kami berpendapat, bahwa keunggulan komparatif, adalah keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh organisasi seperti SDM, fasilitas, dan kekayaan lainnya, yang dimanfaatkan untuk mencapai tujuan organisasi atau perpaduan keuanggulan beberapa organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Contoh, beberapa instansi / lembaga pemerintahan, dengan memanfaatkan segala keuanggulan yang dimilikinya, dan mereka mempunyai satu tujuan bersama, yakni untuk mewujudkan VISI dan MISI yang telah dibuatnya bersama-sama.

Oleh sebab itu, jelaslah bahwa keunggulan komparatif, bagaimana untuk mencapai tujuan bersama dengan segala keunggulan yang dimiliki baik oleh organisasi maupun terhadap organisasi lainnya, sedangkan keunggulan kompetitif, bagaimana memanfaatkan keunggulan yang dimiliki oleh organisasi untuk bisa mendapatkan tujuan organisasi, dengan cara berkompetisi dengan organisasi lainnya

KEPEMIMPINAN DALAM RAGAM BUDAYA, Part III (Habis)

KERAGAMAN SEBAGAI KEKUATAN DAN KELEMAHAN.

Perilaku setiap anggota kelompok budaya tergantung pada sejarah orang-orang/individu dalam kelompok masyarakatnya. Pengalaman telah menunjukkan kegagalan belajar dari sejarah, dan kesalahan-kesalahan yang diulangi oleh beberapa generasi dalam waktu lama Akhirnya harus mengikuti seperangkat Norma dan nilai yang berdasarkan pengalaman dan perkembangan mereka.

Disamping pengaruh historis dan lingkungan, mentalitas suatu bangsa yang menentukan sifat dan karakteristik bahasa tertentu akan mempengaruhi luas terhadap perkembangan visi, misi, kharisma, emosi, perasaan politik, disiplin dan hirarki.

Kepemimpinan Individual dan Kolektif
Organisasi secara otomatis mengisyaratkan kepemimpinan yang mempunyai wewenang untuk menetapkan suatu peraturan sebagai pedoman bertindak. Bentuk baru kepemimpinan kolektif di pemerintahan baik pda tingkat regional dan lokal selama berabad abad.

Aturan kolektif penduduk mengilhami bentuk dan pola kepemimpinan pada daerah tersebut yang ditunjukan oleh faktor-faktor yang memimbulkan kepemimpinan dan organisasi masyarakat seperti :
Adat istiadat, lingkungan iklim, sejarah, agama, bahasa, filsafat yang mempengaruhi; fisiologi (penampilan fisik), sukses (perang, perdagangan, pertanian), Kegagalan (kekeringan, Invasi, Penyakit), yang merupakan reaksi terhadap kepemimpinan dan Konsep status dan Penggunaan Waktu Menimbulkan Organisasi (Visi, Misi, Norma, aturan, struktur, energi, wewenang, dan fungsi.) Tujuannya sebagai kelangsungan hidup menuju kemakmuran (cita-cita).

Organisasi biasanya diciptakan oleh pemimpin. Apakah kepemimpinan tersebut; otoriter, individual, atau kolektif yang berfungsi sebagai :

  1. Model fungsi Pengembangan jaringan (networking) ,
  2. Model fungsi oreantasi tugas.

Cara pemimpin dalam ragam budaya memahami organisasi antara lain dapat dikenali hal-hal :

  1. Bahasa dan budaya, dengan membentuk timkerja yang serasi dan padu diperlukan informasi tentang sejarah dasar daerah tersebut dengan cirri cirri kebudayaannya dan mempelajari bahasa daerah dalammembangun tim yang kuat dalam organisasi.
  2. Kekuatan non fisik, dimana akal sehat, pendidikan yang baik dan kedewasaan individu, akademik maupun organisasi yang merupakan sumber daya untukmenghindari perilaku yang negative sebagai mitra kerja. Tidakhanya mengandalkan kewenangan saja dalam memimpin organisasi /masyarakat.
  3. Mengelola Tim, karena semakin berkembang tim/organisasi tersebut secara nasional, international atau global, menyebabkan pengelolaan tim melalui koordinasi yang berbeda secara terus menerus (sesuai perkembangan). Pembentukan Tim building menjadi bahasan dalamm kajian manejemen.
  4. Latihan pembentukan tim, melalui banyak cara latihan yang pembentukan tim (team building excercises), organisasi bersifat multi nasional, disekolah sekolah bisnis yang mementingkan kerjasama tim dalam menelaah kasus seperti berkemah atau out bound (belajar diluar ruangan/alam terbuka).

Menjembatani Kesenjangan Komunikasi.
Yaitu melalui Komunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung (media) terdapat dialek atau pemahaman yang berbeda menyebabkan terjadi kesalah pahaman dalam berkomunikasi tersebut. Untuk perlu dipahami hal hal yaitu :

  1. Bahasa
  2. Kesenjangan Komunikasi, menyangkut aspek; linguistic, praktis dan budaya. Masalah praktis biasanya paling mudah dipecahkan oleh pemimpin bagaimana harus berprilaku di suatu daerah.
  3. Penyesuaian pola pikir, sebagai upaya pemimpin dalam menagdakan pertemuan yang yang menarik dan tidak membosankan sampai menghasilkan keputusan yang disepakati secara santai atau bermain dalam kelompok masyarakat, seperti main golf atau sambil makan malam, sarana hiburan rakyat dll.
  4. Nilai dan Citra diri, dengan beraneka ragamnya budaya budaya dalam masyarakat kita. Maka pimpinan harus melihat dalam kacamatan budaya keragaman terebut. Termasuk disini nilai nilai dan tradisi serta keagamaan dan ritual ritual kelompok budaya. Citra merupakan bagian persepsi nilai untuk melihat diri mereka melalui kacamata budaya dan kebiasaa serta adapt istiasat mereka.
  5. Etika, orang orang memadang keputusan sejak diputuskan merupakan perjanjian lisan yang dirumuskan menjadi dokumen tertulis yang legal. Secara etis orang terikat pada keputusan yang dibuatnya.

Keragaman Sebagai Kekuatan.
Keanekaragaman; ethnis, agama, adat istiadat, kebiasaan, bahasa daerah dan lainnya di Indonesia yang tumbuh dan berkembang sebagai nilai-nilai yang mengakar dalam kelompok kelompok masyarakatadalah sebagai kekuatan. Apabila dikelola dengan baik untuk menimbulkan kekuatan bangsa yang besar. Bagi pemimpin aspek inilah merupakan peluang dalam memainkan pola kepemimpinan yang bagaimana harus dilakukan dalam menghadapi masyarakat tertentu.

Selanjutnya keragaman tersebut akan menumbuhkan keterikatan keterikatan akan bidang; hukum, aturan atau dogma dogma agama yang dianut masyarakat. Karena itu seorang pemimpin perlu memahami kondisi tersebut dalam memimpin masyarakat tertentu. Disamping munculnya konflik konflik kepentingan antar kelompok tersebut dengan pembinaan rasa kesatuan bangsa (nation building) harus diutamakan dalam memimpin kelompok masyarakat dan masyarakat bangsa.

Keragaman Sebagai Kelemahan.
Keanekaragaman atau kemajmukan; ethnis, agama, adat istiadat, kebiasaan dll, apabila tidak dapat dibina dalam satu kesatuan yang bulat bukan tidak mungkin akan menimbulkan perpecahan. Dimulai dari perpecahan kecil menjadi semakin besar bila tidak pernah diantisipasi dengan upaya kepemimpinan dengan memperhatikan budaya untuk mempersatukan mereka dalam pembangunan menuju masyarakat yang sejahtera. Perpecahan yang cukup rawan; masalah keragaman agama, adat istiadat, perbedan suku/etnis/ras, perbedaan kebiasaan dll.

IMPLIKASI, KONSEKUENSI DAN KEMUNGKINAN MASALAH KEPEMIMPINAN DALAM KERAGAMAN.

Implikasi Kepemimpinan.
Saat ini organisasi masyarakat semakin bersifat keragaman (multi budaya), sejak kemerdekaan Indonesia 61 tahun. Lalu, Hal ini menyebabkan semakin kompleksnya masalah kehidupan dalam keragaman tersebut.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta komunikasi dan informasi semakin mewarnai kehidupan masyarakat. Menyebabkan kebudayaan didunia semakin berinteraksi secara global, mengakibatkan terjadi perubahan dibidang ekonomi, politik dan kebiasaan hidup baru yang melahirkan kenyataan terjadinya perubahan budaya dan pola kepemimpinan. Globalisasi media massa sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat modern dalam diri mereka akan perbaikan mutu kehidupan mereka.

Dr.Woodrrow Sears dalam buku Back In Working Order, dengan masalah ekonomi dengan memperkecil usaha, merger (gabung), joint venture merupakan contoh untuk menempatkan diri dalam situasi pasar.

Membantu orang orang bekerja lebih cerdik merupakan manejemen multy budaya yang efektif, maka kepemimpinan perlu:

  1. Menciptakan struktur yang memungkinkan orang orang ambil bagian dalam tujuan organisasi.
  2. Manegemen dirumuskan sebagai harapan/pengawasan yang menurut Sears berarti maneger maneger yang efektif menciptakan harapan atas pelaksanaan tugas dengan para bawahannya dengan hasil pekerjaan yang dilakukan.

Praktek manejemen multy budaya menurut McGregor (Humas Side of Interprice) bahwa setelah 40 tahun. Para ilmuwan di bidang perilaku manusia (behaviore) menyampaikan pesan tsb. Baru sekaranglah mulai menterjemahkan ide-ide tersebut dalam tindakan (organisasi). Pemimpin ragam budaya sejati adalah pimpinan yang inovatif, yang menjadi komunikator dan negosiator antar budaya yang efektif dalam berbagai lingkungan masyarakat.

Ciri ciri manajer multi budaya adalah ;

  1. Berfikir melampaui persepsi lokal
  2. Siap untuk mengganti dengan pemikiran baru dan membuang pemikiran lama.
  3. Menciptakan kembali norma-norma dan praktek budaya dengan hal yang baru.
  4. Memprogram kembali peta dan bangunan mental mereka.
  5. Menyesuaikan diri dengan lingkungan dan gaya hidup yang baru.
  6. Menyambut baik pengalaman linta budaya bangsa.
  7. Kemampuan akan kecakapan multy budaya.
  8. Menciptakan sinerja budaya kapan dan dimana saja.
  9. Bekerja efektif dalam lingkungan multy nasional/bangsa
  10. Memimpin kesempatan kesempatan dan usaha transnasional.
  11. Menciptakan scenario masa depan yang optimis.
  12. Mempelajari hubungan antar manusia /bangsa dan nilaimglobal.
  13. Terbuka dan fleksibel dalam menghadapi orang orang yang beragam budaya.
  14. Mudah bergaul dengan orang yang berbeda latar belakang; ras dan lainnya.
  15. Fasilitator pendatang baru, orang asing, kaum minoritas dan imirgran.
  16. Sudi bekerjasama dalam joint venture, konsorsium atau koalisi.
  17. Perubahan direncanakan dan futuris.

Konsekuensi Kepemimpinan Dalam Ragam Budaya.
Perkembangan berfikir dan aspirasi.
Masyarakat yang saat ini mudah mendapat informasi, dapat menyampaikan keinginan mereka kepada pemerintah di era keterbukaan melalui aspirasi-aspirasi tertentu. Konsekuensinya bagi pemerintah/pimpinan adalah untuk mendengarkan secara baik dan merespon secara baik sesuaidengan ketentuan dan kehendak orang/warga lebih banyak dalam kelompok msyarakat.

Perkembangan Kepentingan Pribadi, Kelompok, Ethnis.
Kepemimpinan yang diharapkan dalam Konsekuensi adanya perkembangan tersebut secara keserasian dan suasana demokratis dan terbuk.

Berkembangnya Regionalisme.
Kecenderungan adanya perkembangan bersifat negative dari berlakunya UU No.22 tahun 1999 dan saat ini di revisi dengan UU N0.32 tahun 2004 yaitu dimana masing-masing daerah (region) dengan semangat otonomi dengan munculnya konflik kepentingan dalam dan antar daerah. Sehingga egoisme daerah sangat menonjol, walau ada kerjasama antar daera.

Masalah-Masalah Kepemimpinan dalam Ragam Budaya

  1. Perbedaan adapt istiadat dan kebiasaan.
  2. Hambatan komunikasi pada masyarakat tertentu.
  3. Kemampuan Kepemimpinan dalam ragam budaya.
  4. Adanya sumber sumber yang ada di daerah dengan erbedaan yang mencolok.

KEPEMIMPINAN YANG TEPAT DALAM PENGELOLAAN MASALAH KERAGAMAN.

Pemimpin dan Kepemimpinan
Pemimpin adalah orang yang memiliki kemampuan / keterampilan untuk mempengaruhi atau menggerakkan perilaku orang lain untuk bekerja secara efektif dan efisien. Melalui kopentensi pemimpin yaitu :

  1. Kompetensi Tehnis, bersifat keterampilan dan kemampuan khusus/tehnis.
  2. Kompetensi menejerial, bersiaft mulai dari perencanaan, pengorganisasian, Penggerakan dan pengawasan.
  3. Kompetensi sosial, kemampuan untuk berintekrasi dengan orang lain.
  4. Kompetensi strategi, kemampuan untuk melihat jauh kedepan dan merumuskan Masalah dan strategi.
  5. Kemampuan Etika, dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.

KEPEMIMPINAN DALAM RAGAM BUDAYA, Part II

Pengertian Kepemimpinan.

Menurut Buku Kepemimpinan Pemerintahan di Indonesia (Drs.Pamudji, MPA) bahwa Istilah Kepemimpinan berasal dari kata dasar pimpin yang berarti bimbing atau tuntun , kemudian lahir kata kerja memimpin berarti membimbing atau menuntun. Kemudian berubah dalam kata benda pemimpin atau orang yang berfungsi memimpin atau menuntun.

Istilah pemimpin berasal dari kata asing “leader”. Kepemimpinan dari “leadership” Walaupun kepemimpinan tidak sama dengan manejemen, namun pengertian tidak bisa dipisahkan dengan terdapat beberapa perbedaan.

Perbedaan kepemimpinan dengan manejemen antara lain ;

  1. Kepemimpinan mengarah kepada kemampuan individu, sedangkan manejemen mengarah kepada system dan mekanisme kerja.
  2. Kepemimpinan adalah hubungan interaksi antara si pemimpin dengan pengikut. Sedangkan manejemen merupakan fungsi status atau wewenang (authority).
  3. Kepemimpinan mengantungkan diri pada sumber sumber dalam dirinya, sedangkan manejemen mengarah kepada kesempatan mengarahkan dana dan daya yang ada dalam organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.
  4. Kepemimpinan di arahkan untuk kepentingan si pemimpin, sedangkan manejemen mengarah kepada pencapaian tujuan organisasi secara langsung.
  5. Kepemimpinan bersifat hubungan personal yang berpusat pada diri si pemimpin, pengikut dan situasi, sedangkan manejemen bersifat impersonal dengan masukan logika, dana, analitis dan kuantitatif.


“Kepemimpinan sebagai titik pusat proses proses kelompok (Leadership as a focus of group processes”. “Kepemimpinan adalah suatu kepribadian yang mempunyai pengaruh (Leadership as personality and its effects”.
Kepemimpian adalah seni untuk menciptakan kesesuaian faham atau keseiaan, kesepakatan (leadership as the art of inducing compliance).

Keragaman Budaya Indonesia

Kebudayaan berkaitan erat dengan ilmu ilmu sosial seperti ; sosioligi, psikhologi , anthropologi karena membicarakan fenomena dalam masyarakat.
Dalam membicarakan Sistem Adminiatrasi Publik dalam Negara RI (SAPRI), kebudayaan merupakan factor sangat penting, karena menyangkut kajian mengenai berbagai perilaku seseorang maupun kelompok yang beroreantasi tentang kahidupan bernegara , penyelenggaraan pemerintahan, politik, hukum, adapt istiadat dan norma, kebiasaan yang berjalan yang dilaksanakan dan dihayati oleh anggota masyarakat sehari hari dalam organisasi (formal dan informal.

Berbicara tentang Kebudayaan Indonesia,

Terasa sulit karena Indonesia memiliki keragaman budaya yang dihasilkan oleh berbagai suku bangsa Indonesia. Keberagaman itulah yang menjadi kebudayaan Indonesia yang tercermin dalam nilai-nilai Pancasila dan semangat Bhineka Tunggal Ika.
Perlu dikaji budaya kedaerahan yang mempengaruhi kehidupan masing-masing suku di Indonesia yang juga mempempunyai keterikanan satu sama lain dalam kebhinekaan yang ditandai dengan tidak ada perilaku yang mendua.

Walau ada perbedaan budaya tersebut di beberapa daerah dalam wujud hukum yang berbeda. Ahli Hukum Belanda membagi Indonesia atas 18 lingkaran hukum adat yang juga menunjukan perbedaan pada garis keturunan, seperti garis keibuan (matrilineal), kebapakan (patrilineal) dan keduanya (parental).

Beberapa budaya daerah dalam catatan budaya di Indonesia (Buku Administrasi Publik, Inu Kencana, dkk) dan budaya hidup sehari hari antara lain :

  1. Budaya Jawa, dengan budaya politik kawula gusti sebagai etika Jawa yang dikenal tabah dan ulet dalam kehidupan mereka. Kepasrahan dengan semangat nrimo (menerima dengan pasrah) dalam menghadapi tantangan hidup dalam kromo inggil sebagai falsafah mereka, serta kebiasaan hidup lainnya yang dinilai positif dalam kepemimpinan dengan aspek budaya.
  2. Budaya Minangkabau, dengan budaya politik partisipasi dapat merupakan kajian kepemimpinan dalam budaya yang positif untuk dikembangkan dalam pemerintahan dan pembangunan. Keuletan orang Minangkabau tercermin dalam pepatah petitih dan kebiasaan hidup berdemokrasi dalam sejarah perjalanan suku Minang dengan dua sistem yaitu Sistem Bodi Caniago dan Sistem Koto Piliang. Pandangan hidup orang Minangkabau yang Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Hal ini menunjukan ketaatan akan nilai dan ajaran agama Islam terpatri dalam kebiasaan hidup dan budaya Minangkabau. Budaya lain di Minangkabau yang positif dan dapat diangkat dalam kepemimpinan antara lain ; tagak samo tinggi dan duduak samo randah, nan buto pambasuh lasuang, nan pakak palapeh badia, nan lumpuah pauni rumah, nan bingunang di suruah-suruah, nan kuaek pambaok baban, nan cadiak lawan barundiang, dll. Budaya seperti ini perlu bagi seorang pemimpin di ranah Minangkabau dalam kepemimpinannya.
  3. Budaya Sunda, yang tidak biasa menonjolkan diri karena tidak perlu dan sikap yang toleran, namun tidak gentar melawan pihak yang menindasnya. Sebuah cerita sejarah di masyarakat Sumedang bahwa suatu ketika rakyat banyak yang sengsara karena penjajah Belanda dalam cultuur stelsel (kerja paksa), menyebabkan Cadas Pangeran sengaja melawan Belanda dengan mengulurkan tangan kiri untuk bersalaman dan tangan kanan memegang keris untuk dihunjamkan kepada sang penjajah .
  4. Budaya Bugis Makassar, sebagai suku bangsa pemberani dan tangguh dalam mengaharungi lautan sampai ke mancanegara. Dalam budaya lain mereka memiliki budaya siri (Vendetta), dimana apabila salah seorang keluarga mereka dipermalukan oleh seseorang, maka seluruh anggota keluarga mereka akan menganggap orang itu sebagai musuh pula. Dengan kata lain budaya menjaga nama baik keluarga paling penting dan kalau tidak menyebabkan dendam berkepanjangan dan bahkan pertumpahan darah. Orang orang suku bugis Makassar ini terkenal dalam keberanian berdiskusi dan bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah menyebabkan pola kepemimpinan budaya di daerah ini memperhatikan sifat dan kebiasaan budaya mereka dan mengangkat kebiasaan positif dalam kepemimpinannya.
  5. Budaya Batak, terkenal dengan eksistensialis dalam menantang hidup yang terkenal dengan Batak Tembak Langsung (BTL) atau seseorang yang tinggal dipedalaman Sumatera Utara, tidak perlu melalui Medan untuk menuju Jakarta atau keluar negeri sekalipun. Dalam mengemukakan pendapat orang Batak cenderung spontan tanpa tedeng aling-aling, sehingga demokrasi dalam pembangunan politik akan berkembang pesat bila mengikuti pola sikap dan perilaku putera puteri orang Batak. Diperlukan keakraban dengan masyarakat Batak dalam membangun kepemimpinan sesuai dengan adat dan kebiasaan mereka yang fair (jujur) serta spontan dan terbuka.
  6. Budaya lainnya di Indonesia dalam kepemimpinan dalam ragam budaya di era kebebasan yang perlu dikaji secara baik untuk mencapai tujuan.

Menghargai Keragaman Budaya

Dalam pola kepemimpinan tersebut, diperlukan usaha usaha untuk menemukan nilai-nilai budaya yang beranekaragam tersebut dengan memahami perbedaan dan persamaan diantara mereka dalam semangat kebhinekaan. Unsur-unsur penting dalam dimensi budaya melalui komunikasi non verbal, penggunaan bahasa, orientasi ruang dan waktu, pendekatan-pendekatan psikologis yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan dalam pola kepemiminan dalam komunikasinya.

Dimensi kebudayaan lain seperti pola pikir yang digunakan kelompok/individu biasanya berdasarkan nilai nilai kebudayaan masyarakat suatu kelompok etnis sejak dari kecil sudah terbiasa dalam berpola pikir dan berperilaku seperti hal tersebut. Perangkat nilai serta Norma dalam budaya merupakan perangkat cita-cita dan keinginan yang diharapkan dalam kelompok masyarakatnya. Nilai baik dan buruk dan yang dilarang dan suruhan mempengaruhi sikap dan perilaku mereka.

Unsur paling penting dalam kebudayaan kita adalah sistem nilai, gambaran diri, komunikasi non verbal, penggunaan bahasa, orientasi ruang dan waktu yang kita kaji dan amati dari perbedaan kebudayaan yang berbeda dan memilih suatu kebudayaan yang pasti benar atau salah.

Interaksi dalam hidup bermasyarakat dalam budaya tertentu didasarkan pada perangkat nilai tertentu yang berkembang sejak kecil. Nilai-nilai tersebut kemudian dikumpulkan, diberi ganjaran dan ditekankan keluarga, komunitas, organisasi dan bangsa kita. Perbedaan nilai tersebut menjadikan akan memberi tahu siapa kita ini yang hidup dalam budaya bagaimana (menjadi orang Indonesia, orang Arab, orang Amerika) dan lain-lain yang mencerminkan cirri-ciri kebudayaan tertentu sebuah bangsa.

Membangun kepekaan budaya seseorang perlu adanya sensor yaitu mendengarkan, Mengamati, merasakan (fase I). Dalam Fase II yaitu menanggapi, ambil bagian, Tumbuh, selama interaksi dalam menyaring pesan yang datang. Fase III dengan menyesuaikan, berbagi, mengalami dan kemudian dapat dinikmati sebagai sebuah budaya tertentu.

Dalam ketiga fase tersebut orang harus mampu menyesuaikan diri, mampu mengambil bagian (ikut serta) dalam pengalaman/informasi dari pihak/orang lain. Tentu dengan cara yang menyenangkan yang ditampakkan oleh lintas budaya yang dinamis.

JATUH, BANGUN EEE…. JATUH LAGI……

Dilihat dari judulnya mungkin kita langsung teringat lagu nya Meggy Z, yang jdulnya persis banget kayak yang diatas. Tapi… eits.. tunggu dulu, judul boleh sama tapi kejadian beda…, kejadian ini emang aku alami sendiri tadi pagi sekitar pukul 08.00 setelah apel pagi.

Kejadian ini emang memalukan n bikin orang sekantor pada heboh n senyum-senyum sendiri…

Ceritanya gini, setelah apel pagi pukul 07.30 Wib biasanya aku langsung kabur ke kantin untuk sarapan pagi, tapi ntah kenapa gak seperti biasanya pagi ini setelah apel pagi aku duduk dulu di lobi kantor sambil nunggu karyawan (tepatnya Pegawai) ngisi absen bagi mereka yang belum ngisi, biasanya yang ngumpulin absen temen se ruangan aku, kebetulan aku bertugas dibagian Kepegawaian tapi karena dia sedikit telat, yah udah aku juga deh yang ngumpulin (emang sih untuk tugas yang satu ini aku rada-rada males). Nah setelah tuh absen udah aku kumpulin trus langsung dibawa keruangan untuk di rekap.

Sewaktu aku akan keruangan niatnya sih langsung keruangan tapi mampir dulu dilaboraturium Komputer, nah disinilah musibah itu muncul (yang ngalamin aku yang musibah namanya tapi kalo orang ngeliat sih jadi lain), jalan menuju labor kebetulan lagi di pel ama petugas OB kantor, yah jadi rada-rada basah. Dengan santainya aku berjalan tapi gak ngeliat ada rambu-rambu “WET FLOOR” yah udah musibah itu pun datang juga, aku terjatuh dengan keadaan terduduk. Pertamanya sih orang-orang ngeliat Cuma geleng-geleng kepala doang sambil ngomong “makanya kalo jalan matanya jangan ngeluyur”.

Trus aku bangun sambil menahan malu n sakit. N aku pun ngelanjutin jalan, baru beberapa langkah eee…. jatuh lagi… yah udah orang-orang kantorku pada heboh geger n ngetawain aku. Asal tau aja kali ini aku jatuh dengan posisi telentang n kaki nangkring di meja, kali ini mereka berkomentar “Baru kali ini kami negeliat raksasa jatuh…..” dengan ketawa lepas mereka berlalu tanpa ada yang nolongin aku untuk bangkit. Untuk sebagai gambaran, aku emang orangnya gendut.

Dengan lagi-lagi menahan malu, sakit n marah aku langsung bangun n jalan lagi trus ke laboraturium sambil ngucapin hal-hal yang gak pantes untuk didenger n gak keluar-keluar selama 2 jam untuk nenangin diri n ngilangin malu yang emang tentunya susah juga ngilangin malu……

Yah sejak itu setiap aku kelaur n ketemu orang-orang kantor mereka pada senyum-senyum ngeliatin aku…..Emang betul-betul kejadian yang memalukan dalam hidupku……

KEPEMIMPINAN DALAM RAGAM BUDAYA, Part I

Dalam penyelenggaraan pemerintahan sebuah negara di manapun di dunia, memerlukan adanya unsur pemimpin disamping unsur lain seperti wilayah dan rakyat yang dipimpin. Sejarah kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan 17 Agustus 1945 lalu, telah melalui perjuangan panjang bangsa yang telah mengorbankan jiwa dan raga yang besar untuk itu, karena selama 3,5 abad lebih bangsa penjajah selalu ingin kembali menjajah negara kita yang kaya raya dan indah.

Wilayah yang sangat strategis dan terbentang diantara dua benua dan dua lautan luas, terdiri dari 17.058 buah pulau besar dan kecil (data Bakorsurtanal) dan dihuni oleh lebih ratusan suku bangsa atau etnis yang tersebar diantara Sabang dan Merauke. Sedangkan dalam kehidupan rakyat Indonesia sehari hari memiliki berbagai ; agama dan adat istiadat atau budaya, bahasa daerah yang sangat beragam dan berbeda satu sama lain.

Jumlah penduduk saat ini mencapai 220 juta lebih dan merupakan Negara keempat terbesar penduduknya d dunia. Penduduk dengan masyarakatnya yang sangat heterogen yang mendiami sekita 6000 buah pulau. Di lain pihak penduduk yang begitu besar dan majemuk tersebut memerlukan pemimpin yang kuat dan tangguh serta berada ditengah tengah keberagaman diantara berbagai suku, ras, agama, adat istiadat dan kebiasaan sehari hari.

Dipihak lain dalam tujuan negera untuk mensejahteraan masyarakat adil dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia saat ini masih dalam perjalanan cukup panjang. Masalahnya memerlukan semangat dan keinginan seluruh rakyat atas kepemimpinan yang baik di dalam keberagaman budaya tersebut. Dari zaman kezaman terjadi perubahan yang terjadi dalam perjalanan kehidupan bernegara dan berbangsa tersebut.

Perubahan lingkungan yang strategik dunia yang tidak dapat dihindarkan akibat kemajuan teknologi dan informasi tidak terbendung, baik dibidang sosial, ekonomi dan politik serta kebudayaan. Perubahan tersebut sangat mempengaruhi kepemimpinan dan organisasi publik sebuah Negara termasuk Indonesia. Sejarah telah menunjukkan bahwa sejak kemerdekaan terjadi banyak perubahan sosial politik dan perekonomian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Perubahan tersebut yang kita sayangkan adalah memperlambat pencapaian tujuan masyarakat adil dan makmur seperti tercantum dalam pembukaan UUD 1945.

Disinilah masalah kepemimpinan memegang peranan penting dalam pencapaian tujuan Negara tersebut di atas. Karena keuatan organisasi publik terletak pada beberapa kekuatan antara lain ; proses interaksi pada kekuatan hubungan pribadi/kelompok, mutu pola pikir serta kekuatan tata nilai (budaya) yang diterima oleh masyarakat dalam organisasi tersebut.

Pola pikir dan paradigma yang demikian terletak pada pemimpin dalam ragam budaya yang sangat mempunyai peran penting. Karena keragaman budaya dalam era tertentu mewarnai tata budaya, tata ekonomi, tata hukum, tata politik, setiap Negara. Didalam era globalisasi ini persaiangan akan semakin kuat dan bersifat regional dan global yang memerlukan kepemimpinan dalam keragaman budaya mercerminkan nilai nilai dan karakteristik ;

  1. Mencerminkan diri dalam pribadi yang memiliki visi yang kuat.
  2. Beroreantasi untuk menghasilkan kinerja organisasi yang bermutu tinggi.
  3. Menyelaraskan pembagian konpensasi dengan tingkat kinerja.
  4. Menciptakan mitra kerja atau kolaborasi dengan tingkat intensitas dan mutu yang tinggi atau kemampuan mengembangkan jaringan (networking).
  5. Menekankan ketinggian etika kerja.
  6. Kecermatan dalam perencanaan.

Dalam tujuan pembelajaran ini diharapkan tercapai pemahaman dan pengertian serta pelaksaaan masalah kepemimpinan yang tepat dalam keragaman dalam organisasi dan masyarakat Indonesia (budaya).

Pengertian Budaya
Kata Budaya dalam pengertian harfiah, sering diterjemahkan istilah bahasa Inggris yaitu Culture yang berasal dari bahasa Latin Colore yang berarti mengerjakan tanah, mengelola dan memelihara ladang (Soerjanto Puspowardoyo, 1993). Pengertian ini jelas berbau agraris pada masa tersebut dan kemudian diterapkan kedalam hal-hal yang bersifat rohani (Langeveld, 1993).

Oleh Ashley Montague dan Christopher Dawson (1993) mengartikan culture sebagai way of life atau cara hidup tertentu dengan memancarkan identitas suatu bangsa tertentu. Istilah culture ini sering diterjemahkan menjadi kebudayaan atau peradaban. Dalam bahasa Arab disebut akhlak atau budi dalam bahasa Indonesia.

The American Heritage Dictionary (Kotter dan Hescett 1992) mendefinisikan budaya sebagai keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan meleluikehidupan sosial, seni, agama, kelembagaan dan segala hasil karya dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia.

Istilah culture sering juga diterjemahkan menjadi kebudayaan atau peradaban atau budi dalam bahasa Arab disebut Akhlak. Budaya membuat orang-orang dalam etnis tertentu menjadikan kekhasan sendiri, seperti orang Jawa, orang Sunda, Orang Minang, Orang Melayu, dan lain-lain.

Ahli Belanda Geert Hofstede mengatakan bahwa budaya sebagai perangkat lunak (software) pikiran pemrogram sosial yang mengatur cara berfikir, bertindak dan mempersepsikan diri kita dari orang lain (Charles Mitcchel 2001)

Komponen–Komponen Budaya:

  1. Bahasa adalah kata kata yang terucap atau tertulis sebagai alat komunikasi dalam melakukan interaksi diantara manusia. Komunikasi verbal, non verbal, gerak gerik, bahasa tubuh, expresi wajah yang semua itu menyatakan pesan tertentu.
  2. Agama atau religi dalam budaya mempunyai pengaruh yang amat besar dalam melakukan berbagai kegiatan manusia. Dalam agama Islam sering muncul istilah Insya Allah yang mempunyai arti jika dikehendaki Tuhan. Demikian menunjukkkan kekuasaan Tuhan Yang Paling Tinggi disbanding manusia.
  3. Sikap yang saling bertentangan. Nilai nilai budaya mempunyai dampak terhadap kegiatan pengelolaan pemerintahan dan pembangunan. Dua perbedaan nilai yang paling mendasar untuk dipertimbangkan adalah apakah suatu budaya menekankan pada individu seperti oleh bangsa Amerika contohnya. Atau kolektivisme seperti orang Cina dan lainnya. Nilai budaya tercermin dalam kehidupan sehari hari dalam kelompok (suku). Maka pemahaman budaya yang mendasar diantara kelompok ataupun suku akan sangat menimbulkan masalah, lebih lebih budaya/kebiasaan suatu kelompok bertentangan dengan kelompok lain. Dijumpai komponen lain seperti ; sopan santun, seni, pendidikan, humor, organisasi sosial

Dalam bahasa Indonesia istilah budaya berasal dari budi dan daya. Budi berarti akhlak, sedangkan daya berarti upaya atau usaha. Budaya merupakan upaya upaya manusia yang didasari atas budi yang luhur yang melahirkan konsep konsep bagaimana harusnya hidup (way of life) sehingga melahirkan adat istiadat, hukum, adab sopan santun, seni dan seterusnya sebagai pedoman hidup bermasyarakat.

Pengertian kebudayaan menurut DR.Muhammad Hatta adalah “Kebudayaan adalah ciptaan Hidup dari suatu bangsa. Dan menurut Prof.Zoemulder Kebudayaan adalah perkembangan terpimpin oleh manusia budayawan dari kemungkinan kemungkinan tenaga tenaga dalam alam terutama alam manusia, sehingga merupakan kesatuan yang harmonis.

Kelompok Kebudayaan

  1. Kebudayaan sebagai suatu system pengetahuan
  2. Kebudayaan sebagai system makna thd symbol symbol.

Kebudayaan adalah sebagai keseluruhan pengetahuan yang dimiliki manusia sebagai makluk sosial, yang isinya adalah perangkat-perangkat, model-model pengetahuan yang secara selektif dapat digunakan untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan yang dihadapinya, serta untuk mendorong dan menciptakan tindakan tindakan yang diperlukan.

Perilaku terbentuk sebagai resultante atau totalitas dari kebutuhan individu, usaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan pengetahuan kebudayaan (pengetahuan masa lalu) yang dimilikinya. Kemudian dijadikan acuan untuk bertindak mencapai tujuan.

Kebutuhan individu, Pengetahuan kebudayaan, Upaya untuk memenuhi kebutuhan akan mempengaruhi perilaku dalam ekosistem Sosial budaya (fisik dan non fisik).

Unsur Kebudayaan adalah ;

  1. Sistem kepercayaan,
  2. Sistem Bahasa,
  3. Sistem Sosial,
  4. Sistem Ilmu Pengetahuan dan Teknologi,
  5. Sistem Perekonomian,
  6. Sistem Kekerabatan,
  7. Sistem Kesenian,
  8. Sistem Kesehatan dan sebagainya

Perbedaan antar budaya

  1. Bahasa sebagai alat komunikasi dalam pengalaman kelompok etnisnya.
  2. Sikap terhadap waktu akan berbeda, orang yang tinggal di desa dan orang yang hidup dalam lingkungan tradisionil disbanding dengan orang yang mengalami perubahan dalam memamfaatkan waktu secara cepat.
  3. Sikap terhadap pekerjaan, berbeda antar kelompok (etnis) yang hidup dalam kondisi tertentu dengan prinsip bahwa pekerjaan adlah sukses pribadi danharga diri. Dengan individu dari kelompok (etnis) yang mempunyai prinsip pekerjaan terikat dengan tuntutan sekeliling dan irama musim dimana mereka hidup.
  4. Sikap terhadap nasib/ketawakalan, dimana sikap bagi orang yang hidup dalam Norma-norma tertentu yang merupakan kehendak yang diatas (Tuhan). Mereka akan menerima nasib dan menyerahkan keadaan dirinya dengan segala kegembiraan dan keihlasan. Dalam filosofinya mereka hidup merasa tenang dan tanpa kegelisahan atau rasa iri hati atas kemajuan yang dicapai orang lain.
  5. Hubungan dengan kelompok lain, diperlukan interaksi dan hubungan dengan kelompok lain secara harmonis dan efektif sangat diperlukan. Seorang pimpinan yang bertangung jawab dalam mencapai tujuan organisasi harus mempu bergaul dan memiliki kemapuan tehnis dalam membina hubungan dengan kelompok lain atau bawahan.
  6. Sikap terhadap organisasi resmi, diperlukan asumsi bahwa individu dapat mengembangkan karir sesuai dengan kompetensi melalui organisasi. Maka budaya dapat diartikan sebagai system; gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dengan cara belajar (Kuntjaraningrat, 1986).

MEMBANGUN BUDAYA KERJA ORGANISASI, MUNGKINKAH ?

Begitu buruknya Budaya Kerja bangsa kita selama ini. Hal ini tercermin dalam identitas sebuah bangsa yang antara lain kurang dalam ; disiplin, produktif, inovatif, semangat serta mudah tergiur dengan budaya asing yang bersifat negatif dan tidak mau bekerja keras seperti orang Jepang dan lain sebagainya.

Semua itu telah menyebabkan sebagian besar anak bangsa masih terpuruk dalam belenggu; kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan dan saling terlibat dalam wacana demokrasi yang tidak pernah selesai dalam perebutan kesempatan dan kekuasaan termasuk bisnis.

Rupanya demokrasi belum menjamin sebuah kemajuan berarti bagi sebuah bangsa, kecuali kalau keinginan anak bangsa itu sendiri yang ingin merubahnya. Demokrasi baru dalam tahap kebebasan berbicara belum kebebasan berbuat yang positif membangun bangsa. Konsep politik mendominasi kehidupan dibanding yang lain, menyebabkan semua orang ingin terlibat dalam wadah politik yang saat ini belum menunjukan perbaikan nasib rakyat.

Di era globalisasi menandakan terjadi perubahan banyak hal terutama perubahan ekonomi dalam budaya yang paling mempengaruhi kehidupan anak bangsa.

Terjadinya perubahan perubahan dalam lingkup strategis dunia termasuk perubahan budaya sebagai akibat globalisasi dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini ditandai dengan kemajuan komunikasi dan informasi yang seakan tidak terbendung, telah mempengaruhi perubahan kehidupan dan budaya yang signifikan dalam masyarakat dunia dewasa ini.

Masalahnya sekarang bangsa masih belum siap menerima perubahan tatanan baru kehidupan dengan mencontoh/meniru kebiasaan hidup dari masyarakat yang terjadi di belahan dunia lain melalui transformasi budaya. Setelah terbiasa menyaksikan kejadian kejadian yang menarik perhatian akan mempengaruhi sosial budaya masyarakat tradisional dengan cara kehidupan lain yang berbeda dengan kebiasaan sebelumnya. Pengaruh dunia informasi dan komunikasi yang mudah ditemui di berbagai media massa, seperti Televisi, Radio, Internet, wisatawan dan lainnya. Sedangkan dasar budaya sendiri belum begitu mengakar terutama bagi kaum generasi muda, telah menimbulkan terjadinya perubahan yang signifikan dalam kehidupan sosial dan budaya.

Sebenarnya ada perubahan budaya yang diharapkan, bersifat positif bagi pembangunan bangsa dan generasi berikutnya seperti perubahan budaya kerja baik bagi organisasi pemerintah maupun organisasi masyarakat/swasta dalam bekerja atau memproduksi dan melayani masyarakat dalam dunia good governance yang dimiliki oleh tiga domain (negara, swasta dan masyarakat madani). Walau banyak terjadi pengaruh budaya negatif yang lebih mudah diterima oleh masyarakat yang merupakan masalah dan tantangan bangsa dalam membangun masyarakat yang maju dan modern.

Perubahan budaya tersebut sudah berada dihadapan kita, namun masalahnya budaya serta kebiasaan dan budaya asing yang tidak perlu ditiru namun lebih mudah merubah sikap dan perilaku, seperti; pergaulan bebas, sikap dan perilaku, kebiasaan dan sopan santun yang tidak sesuai dengan budaya sendiri, narkotika, kebebasan tidak terkendali dalam demokrasi. Bagi generasi tua akan merasakan perubahan sikap dan perilaku generasi berikutnya menyangkut sikap mental dan hilangnya rasa hormat terhadap kaum tua dibanding era sebelumnya.

Walaupun budaya bangsa Indonesia tercermin dalam filsafat Pancasila, yang berakar dari nilai-nilai luhur kebudayaan seluruh bangsa tercinta dari keanekaragaman budaya dalam kebhinekaan yang menjadi satu dalam hidup sebuah bangsa yang bersatu dalam kemajemukan. Saat ini perlu di terapkan kembali terutama kepada generasi muda, bila tidak ingin terjadi kerusakan lebih lanjut yang berujung pada disintegrasi dan kehancuran sebuah bangsa besar yaitu bangsa Indonesia.

Kenapa Orang Jepang Gila Kerja
Sebenarnya ada budaya asing yang mungkin dapat ditiru oleh generasi bangsa kita adalah budaya kerja yang merupakan sikap terhadap pekerjaan yang dianggap baik dan menyenangkan untuk dunia bekerja seperti sikap; rajin, jujur, giat, bersemangat, berinovasi, berkreasi, terbuka dan bertanggung jawab dan sikap positif lainnya.

Orang Jepang menamakan dengan sikap gila kerja, dibanding sikap dan kebiasaan lain yang negatif seperti; bermalasan, santai, tidak jujur, tidak kreatif dan tidak bertanggung jawab dan sebagainya. Hal ini tercermin dalam identitas bangsa Jepang yang produktif dan diakui oleh semua bangsa di dunia.

Disamping budaya kerja bangsa bangsa Jepang tersebut, budaya kerja bangsa lain seperti Korea, Taiwan, Cina dan Thailand serta Malaysia dan Singapura juga sudah maju dan berkembang dibanyak segi kehidupan; bidang ekonomi, sosial, politik dan lainnya. Namun budaya kerja bangsa kita secara umum masih tertinggal, walau sudah ada sebagian organisasi swasta dan pemerintah yang sudah merubah orientasi budaya kerja mereka lebih baik.

Pada dekade tahun-tahun sebelumnya kita sudah mengenal budaya kerja dengan penerapan mutu dan kualitas kerja dari Jepang dengan TQC (Total Quality Control), TQM (Total Quality Management), Quality Assurance, Value Added Management, Work Improvement Team, yang merupakan bagian dari budaya kerja dalam organisasi pemerintah maupun swasta. Kemudian seorang ahli dari Asian Institute of Management yaitu Prof. Emil P.Bolongaita, JR mengatakan bahwa pemerintah sebaiknya mampu mengakomodasikan pengalaman manajemen pemerintah dengan pengalaman manajemen bisnis dalam sebuah kombinasi dalam pelayanan yang disebut Total Quality Governance (TQG).

Bila digali dalam ajaran dan nilai-nilai agama Islam, jelas bahwa budaya kerja merupakan perintah Tuhan, melalui Surat Al Jumu’ah / 62:10 , Allah mengatakan yang artinya , bahwa…. Apabila telah ditunaikan Shalat, maka betebaranlah kamu dimuka bumi untuk mencari karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.

Dengan Ayat suci tersebut di atas, bahwa setiap orang Islam memahami kerja sebagai ibadah kepada Allah. Hal ini menyebabkan kerja adalah merupakan manifestasi bagian kehidupan manusia sebagai hal yang harus dilakukan dalam dunia kerja sebagai konsep pemikiran kerja adalah ibadah (Kutipan dari Buku Nilai dan Makna Kerja dalam Islam oleh Narasumber antara lain Prof Dr.Sayed Hosein Nasr, dkk

Baik secara ilmiah maupun secara nilai agama jelaslah bahwa kerja dengan membudayakannya dalam kehidupan masyarakat merupakan sebuah keharusan dalam menciptakan nilai-nilai dan kebiasaan orang dalam bekerja yang bermutu dan menjadikan kerja sebagai suatu hal yang lebih menyenangkan dari kegiatan lain.

Strategi Membangun dan Menerapkan Budaya Kerja
Sebagai budaya yang berisikan nilai-nilai dan kebiasaan hidup yang dilaksanakan oleh orang-orang dalam masyarakat bahkan suatu bangsa untuk membangun sebuah budaya yaitu budaya kerja memerlukan pengorbanan yang mungkin luar biasa untuk merubah nilai dan paradigma lama yang harus ditinggalkan oleh sebuah generasi. Perlu waktu dan perencanaan yang baik dalam jangka panjang, kalau mungkin jangka menengah untuk segenap organisasi masyarakat dan pemerintah.

Membangun budaya kerja sama saja dengan membangun diri sendiri setiap orang dalam bersikap terhadap pekerjaan apa saja yang dihadapi mereka. Perubahan sikap dan perilaku dalam bekerja akan menghasilkan mutu kerja yang baik serta pelayanan masyarakat yang optimal. Untuk itu perlu diawali dengan pendidikan termasuk sosialisasi yang merata dalam segenap unsur masyarakat dan pemerintah dengan aparaturnya.

Menurut cerita tentang sejarah Jepang setelah Perang Dunia II untuk membangun kembali semangat bangsa Jepang terutama perekonomian mereka, dengan mencari cara kerja baru mereka untuk menghasilkan produk yang bermutu. Dengan mendatangkan ahli dari Amerika Serikat antara lain; Prof Edward Deming dan Prof. DR. Juran. Teori kedua ahli tersebut diolah oleh Ahli Jepang sendiri yaitu Prof. Dr. Kauro Ishikawa sesuai aspek budaya Jepang sendiri melalui manajemen kualitas dengan berdasarkan kerja kelompo dan partisipatif. Keberhasilan Jepang dalam membangun ekomomi mereka merupakan dorongan bangsa lain untuk mengembangkan teori yang sama sesuai dengan budaya masing-masing seperti; Korea, Thailand, Taiwan, dan Singapura dan lainnya termasuk Indonesia sendiri.

Di Indonesia masalah budaya kerja ini sebenarnya sudah dimulai sejak beberapa decade sebelumnya, namun sampai sekarang masih jalan di tempat. Hal ini mungkin karena banyak terjadi perubahan rezim pemerintahan dan politik, sejak kemerdekaan 62 tahun yang silam. Hal ini menyebabkan penerapan budaya kerja ini masih belum bisa dilaksanakan.

Menurut pendapat penulis hal hal yang perlu di upayakan adalah melalui sinerjitas antara organisasi pemerintah dan swasta dalam upaya pendidikan budaya kerja baik secara pendidikan formil maupun pendidikan luar sekolah yang dijadikan sebuah budaya baru di bidang; semangat, sikap dan perilaku terhadap bekerja yang rajin, jujur, etos kerja tinggi, bertanggung jawab, bermutu, bekerjasama, dan professional dan disiplin.

Saat ini dalam organisasi pemerintah sudah dibuat kebijakan oleh Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara (Men .PAN), melalui Keputusan Men. PAN No.25/Kep/Men.PAN/4/2002, tgl.25 April 2002, Tentang Pedoman Pengembangan Budaya Kerja yang oleh Gubernur Sumatera Barat, dibuat Keputusan No.58 tahun 2004 tanggal 30 Desember 2004, tentang Pedoman Gerakan Disiplin Nasional Penerapan Budaya Kerja Aparatur di Lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Sedangkan kita masih menugggu hasil dari penerapan budaya kerja aparatur dalam setiap unit organisasi dalam struktur yang ditetapkan dalam peraturan daerah.

Tampaknya diperlukan pendidikan masyarakat disamping pendidikan formal untuk membudayakan budaya kerja secara missal dengan; memperbanyak kampanye budaya kerja melalui berbagai media; media massa (cetak dan elektronik), media tradisionil, media tetap muka, dan media lain melalui pembentukan kelompok kelompok budaya. Memperlombakan produk secara sehat dengan mutu yang baik dan dapat bersaing dengan mutu produk asing, serta memberikan reward bagi hasil produk yang mampu bersaing dan memuaskan pelayanan masyarakat. Memberikan semangat dan motivasi bagi setiap orang mempunyai sikap dan gila akan bekerja untuk memcapai mutu yang tinggi.

Pendidikan budaya kerja mulai dari rumah tangga dengan memberikan semangat dan disiplin bagi keluarga untuk menyelesaikan tugas secara optimal. Mengutamakan mutu kerja dari hasil asal jadi setiap keluarga dalam sebuah nilai budaya pada masing masing keluarga.

Juga diperlukan upaya menghilangkan paradigma lama dengan bermalasan dan bersantai dalam bekerja, walau kita temukan dalam organisasi pemerintah ada aparat uang bekerja siang malam tanpa memandang waktu untuk mencapai kinerja yang baik dalam tugas pokok dan fungsi masing masing. Hilangkan semangat bekerja karena mengharapkan jabatan tertentu yang menggiurkan dan tidak mau bekerja karena jabatan atau tugas tidak diingini karena tidak menggiurkan atau adanya iming iming yang tidak professional.

Tanamkan semangat professional dan etos kerja tinggi pada setiap generasi dengan boleh mencontoh bangsa lain yang maju karena budaya dan semangat kerja tinggi mereka dan hilangkan semangat ala mumpung yang bersifat egoisme dan menang sendiri.

Secara perlahan tapi pasti membangun budaya kerja generasi muda bangsa bukan tidak mungkin bisa terwujud dalam masa tertentu yang sulit dalam jangka pendek karena merubah sikap dan membangun nilai dan kebiasaan baru yang merobah pardigma lama yang masih melekat dalam beberapa generasi.

Kalau tidak bangsa kita tetap menjadi bangsa yang dianggap rendah oleh bangsa lain, seperti banyak kasus dalam tenaga kerja terutama menyangkut TKW dan lain sebagainya Masalah ini telah merendahkan identitas kita sebagai bangsa yang beradab dan berbudaya dalam hidup sejajar dengan bangsa lain didunia.