Tuanku Nan Renceh Membangun Markas Islam

Seakan akan sedang menonton sebuah film colossal Romawi yang begitu hebat sewaktu   membaca buku sejarah “Pongkinangongolan Sinambela Gelar Tuanku Rao“, karangan Mangaraja Onggang Parlindungan. Begitu lengkap dan hebatnya kisah perjalanan penegakan agama Islam dan perubahan budaya etnis sebuah bangsa yang dipengaruhi oleh peradaban bangsa lain di dunia. 

Banyak informasi penting ditemukan dalam buku tersebut. Termasuk data lengkap dengan tahun terjadinya peristiwa penting tersebut  yang patut diketahui oleh banyak generasi. Sedangkan di abad globalisasi ini kita sering terpesona dengan kehebatan bangsa lain.  Seakan akan lupa dengan sejarah kehebatan bangsa sendiri pada masa lalu. Kadang-kadang kita tidak bisa berfikir dimasa lalu dengan keterbatasan ilmu pengetahuan & teknologi, termasuk manajemen dan logistic suatu bangsa dapat menjelajahi daerah yang jauh dan sulit dalam perjuangan hidup mati termasuk peperangan yang memakan waktu lama. 

Walaupun terdapat sisi kelam dari cerita yang disajikan buku tersebut , namun kita  ingin menyampaikan sisi positifnya saja.  Karena semua tokoh yang terlibat sudah tidak ada lagi , termasuk diantaranya para Pejuang  Pahlawan Nasional Indonesia tercinta seperti Tuanku Imam Bonjol dan Sisingamangajara XII.    

Banyak yang dapat diambil dari uraian buku sejarah tersebut . Pada  awalnya tulisan ini hanya  di tujuan semula hanya kepada anggota keluarga penulis dengan catatan Sonny Boy dari kumpulan bahan yang didapat dari orang tua  penulis, Sutan Martua Raja (SMR). Namun rupanya buku tersebut banyak dipakai banyak kalangan pemerhati sejarah termasuk kaum intelektual. Salah satu yang penting adalah sisi  sejarah perjalanan kaum Paderi  dengan  Gerakan  Pembersihan/Pemurnian  Islam yang dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh dengan Harimau Nan Salapannya.  Artinya di awali oleh Tuanku Nan Renceh sebagai pionir gerakan kaum paderi  bersama dengan tiga orang haji yang baru pulang dari tanah suci yaitu  ; Haji Piobang , Haji Sumanik dan Haji Miskin dengan  Mazhab Hambali dan faham Wahabi. 

Kemudian gerakan paderi  tahun 1804 -1821 , yang di proklamirkan Tuanku nan Renceh dengan  Negara Darul Islam  ini berkembang pesat dengan banyak tokoh tokoh penting atas didikan Tuanku Nan Renceh  dengan tiga orang haji tersebut.  Berakhirnya Negara Darul Islam tahun 1821 dengan kekalahan Kaum Paderi di pertempuran Air Bangis melawan Belanda dengan kematian Tuanku Rao Cs dan tokoh pemberani lainnya sebagai pahlawan Islam (  belum pahlawan nasional). Sedangkan Tuanku Imam Bonjol selamat untuk melanjutkan Perang Paderi sampai tahun 1937 dengan ditangkapnya Tuanku Imam Bonjol dan dibuang ke Menado.   

 Membangun Markas Angkatan Perang dengan Benteng Kamang, 

 Dalam catatan Buku Tuanku Rao tersebut banyak diungkap mulai pembentukan Markas besar dengan pendidikan agama Islam serta  Benteng Kamang . Dengan  membangun angkatan bersenjata dengan keunggulan Janytsar  Cavallry Islam yang bisa merekrut 32.000 personil tentara dengan  keunggulan tehnik pertempuran berkuda  (cavalry) dibawah binaan Haji Piobang dan Haji Sumanik . Sedangkan Haji Miskin dengan kemampuan bertempur di padang pasir (hermet), terkenal dengan pertarungan hidup mati dalam hindari maut di padang pasir Timur Tengah . Bisa dibayangkan manajemen apa yang di miliki oleh Tuanku Nan Rencek,  atau Tuanku Imam Bonjol, dan Tuanku Rao  dan Tuanku lainnya dalam gerakan pengIslaman di berbagai wilayah di Sumatera Tengah  dan Sumatera Utara kala itu . Sesuai dengan aliran waktu itu dengan perang untuk menegakkan atau pemurnian Islam sebagai satu satunya jalan dari aliran wahabi. Walau kemudian aliran  ini  hilang lenyap ditelan waktu  dengan  datangnya  Mazhab Syafei dengan aliran Sunni yang lebih toleran dengan pendekatan tanpa kekerasan.    

Diawali dengan Pembekalan pendidikan agama selama tahun 1804 -1806.  Tuanku Nan Renceh mendidik calon Panglima Paderi Tuanku Rao dan sejumlah rombongan yang datang di Kamang sekitar 500 orang yang dibawa oleh Datuk Bandaro Ganggo dari Lubuk Sikaping  dan daerah Sumatera Utara . Diawali dengan pengetahuan Agama dan pengetahuan umum oleh Tuanku nan Renceh bersama Haji Miskin dengan metode yang dipelajari Tuanku Nan Renceh di Ulakan Pariaman.  Dalam waktu yang bersamaan Haji Piobang dan Haji Sumanik sekaligus mendidik dan melatih Tuanku Rao cs.  Tuanku Rao ini yang berumur sekitar 16 tahun dengan latihan Cavallry serta pengetahuan tempur lainnya. Konon kedua Haji tersebut sudah terlatih dengan pertempuran Cavallary dengan tentara Turki . Pada tahun 1798 dalam pertempuran dengan tentara Napoleon di Piramides berhasil membanting / mengalahkan Napoleon, berkat kemampuan lapangan tempur berkuda (Cavalry). Rencana Napoleon hendak merebut India dan Indonesia terhambat karena kekalahan dengan tentara Turki dengan prajurit Piobang Cs.   

Sejak tahun 1904 tersebut di Minangkabau lahirlah Gerakan Pemurnian Islam dengan Gerakan Kaum Putih Minangkabau yang dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh . Sekaligus merupakan Markas Islam  semacam Universitas Islam dengan ribuan anak didik dari berbagai daerah di Minangkabau dan daerah tetangga dari Sumatera Utara. 

Kemauan Belajar Agama dan Semangat Berjuang Sangat Tinggi  

Diawali dengan mendidik agama para mualaf yang jumlahnya cukup banyak dengan sekaligus hapalan Al Qur’an,  tidak menjadi masalah bagi Tuanku Nan Renceh dan Datuk Bandari Ganggo yang sama alumni Universitas Islam Ulakan Pariaman yang  waktu itu beraliran Syiah. Walau kemudian Tuanku Nan Renceh dengan pengikutnya menjadi aliran Wahabi dengan Mazhab Hambali yang sekaligus menghilangkan popularitas Tuanku Nan Renceh di Minangkabau. Rupanya Tuanku Nan Renceh ini juga ahli dalam ilmu psychology, serta memahami naluri perang yang tinggi. Dalam rombongan besar yang ingin belajar di Markas Kamang tersebut ada beberapa calon panglima dan pemimpin kamu paderi yang akan muncul kemudian hari. Calon panglima yang dimaksud antara lain adalah Pongkinangolgolan Sinambela alias Tuanku Rao, Peto Syaris alias Tuanku Imam Bonjol (Pahlawan Nasional), Tuanku Tambusai dan lainnya. Dalam waktu singkat Tuanku Nan Renceh mempersiapkan  tentara Islam di bawah komando Umar Bin Chatab alias Tuanku Rao dan Tuanku Imam Bonjol di bawah latihan khusus Jetnisar Cavalry Islam Haji Piobang dan Haji Miskin yang mendapat perlindungan khusus Tuanku Nan Renceh di Markas Kamang. Karena kedua Haji ini kurang disenangi oleh masyarakat kampung asal mereka, karena sikap yang radikal dalam pemurnian Islam dari kebiasaan jahiliyah ( Judi, Sabung Ayam , Minuman Tuak dan perbuatan lainnya ) yang menandakan masyarakat  yang relative baru menganut Islam. Dalam masa singkat sekitar 2 tahun.

Pada tahun 1806 Tuanku Rao diutus Tuanku Nan Renceh mendapat pendidikan lanjutan di Benteng Batusangkar dengan Tuanku Lintau. Di Benteng Batusangkar itulah Umar Bin Chatab alias Tuanku Rao di latih oleh Tuanku Lintau dan Zafrollah Aly (kemudian menjadi Tuanku Hitam). Dalam tahun 1807 Tuanku Rao dapat menamatkan pendidikan lanjutan Jatnisar Cavallry dengan predikat Summa  Cum Laude di benteng Batu Sangkar dan siap dinobatkan Tuanku Nan Renceh menjadi Panglima Paderi. 

Memang pintar Tuanku Nan Renceh dalam masa singkat sekitar 1804 – 1907 berhasil merekrut panglima panglima Perang seperti sebelumnya  Peto Syarif sebagai Tuanku Imam Bonjol diusia 36  tahun,  Ponkinanggolgolan sebagai Tuanku Rao di usia 24 tahun serta Hamonongan Harahap sebagai Tuanku Tambusan di usia 27 tahun . Kemudian ketiga panglima ini mendirikan benteng di Bonjol dan di Rao serta  di belahan utara. Kemudian tokoh tokoh tersebut lah yang menjalankan penegakan Islam diberbagai daerah di Minangkabau, Sumatera Utara dan Riau sekitarnya. 

Kebanggaan Minangkabau Yabg Terlupakan 

Kalau boleh kita membanding dengan era kini dengan arus globalisasi, maka tokoh tokoh zaman dahulu seperti Tuanku Nan Renceh, Haji Piobang , Haji Sumanik dan Haji Miskin  cs. sebagai tokoh penggerah  pemurnian Islam Minangkabau kita juga  bisa menjadi  “ bangga“ (dalam tanda kutib ; kebanggaan akan keuletan penegakan Islam). Pada abad ke XVIII dan XIX tersebut para tokoh tokoh bangsa sudah terbuka dengan informasi dengan dunia luar. 

Apa yang terjadi dalam pergolakan Islam di Timur Tengah dan belahan dunia lain , telah menjadi bagian perjuangan di tanah air. Walau kemudian penjajahan  secara sistematisir berhasil mengadu domba antar aliran dalam masyarakat serta menghancurkan warisan dan semua bekas kejayaan masa lalu.  Melalui penjajahan yang di awali dengan perdagangan rempah rempah dengan menguasai daerah sentra tertentu berujung penjajahan etnis dan bangsa termasuk menghancurkan beberapa generasi selanjutnya dari berbagai bidang pendidikan, ekonomi, social dan termasuk aspek sejarah dan warisan budaya. Sehingga generasi kita belakangan menjadi tertutup akan pintu sejarah dan informasinya akan berbagai aspek masa silam yang positif termasuk asal usul dari nenek moyang mereka. Hal ini menjadi masalah dalam memotivasi generasi berikutnya dalam perjuangan menegakkan kebenaran dan kesejahteraan masyarakat. Sebagaimana pengalaman penulis yang sulit mencari bahan informasi sejarah Tuanku nan renceh ditengah masyarakat, kecuali beberapa buku seperti Buku Tuanku Rao dan buku karangan lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: