MEMBANGUN BUDAYA KERJA ORGANISASI, MUNGKINKAH ?

Begitu buruknya Budaya Kerja bangsa kita selama ini. Hal ini tercermin dalam identitas sebuah bangsa yang antara lain kurang dalam ; disiplin, produktif, inovatif, semangat serta mudah tergiur dengan budaya asing yang bersifat negatif dan tidak mau bekerja keras seperti orang Jepang dan lain sebagainya.

Semua itu telah menyebabkan sebagian besar anak bangsa masih terpuruk dalam belenggu; kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan dan saling terlibat dalam wacana demokrasi yang tidak pernah selesai dalam perebutan kesempatan dan kekuasaan termasuk bisnis.

Rupanya demokrasi belum menjamin sebuah kemajuan berarti bagi sebuah bangsa, kecuali kalau keinginan anak bangsa itu sendiri yang ingin merubahnya. Demokrasi baru dalam tahap kebebasan berbicara belum kebebasan berbuat yang positif membangun bangsa. Konsep politik mendominasi kehidupan dibanding yang lain, menyebabkan semua orang ingin terlibat dalam wadah politik yang saat ini belum menunjukan perbaikan nasib rakyat.

Di era globalisasi menandakan terjadi perubahan banyak hal terutama perubahan ekonomi dalam budaya yang paling mempengaruhi kehidupan anak bangsa.

Terjadinya perubahan perubahan dalam lingkup strategis dunia termasuk perubahan budaya sebagai akibat globalisasi dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini ditandai dengan kemajuan komunikasi dan informasi yang seakan tidak terbendung, telah mempengaruhi perubahan kehidupan dan budaya yang signifikan dalam masyarakat dunia dewasa ini.

Masalahnya sekarang bangsa masih belum siap menerima perubahan tatanan baru kehidupan dengan mencontoh/meniru kebiasaan hidup dari masyarakat yang terjadi di belahan dunia lain melalui transformasi budaya. Setelah terbiasa menyaksikan kejadian kejadian yang menarik perhatian akan mempengaruhi sosial budaya masyarakat tradisional dengan cara kehidupan lain yang berbeda dengan kebiasaan sebelumnya. Pengaruh dunia informasi dan komunikasi yang mudah ditemui di berbagai media massa, seperti Televisi, Radio, Internet, wisatawan dan lainnya. Sedangkan dasar budaya sendiri belum begitu mengakar terutama bagi kaum generasi muda, telah menimbulkan terjadinya perubahan yang signifikan dalam kehidupan sosial dan budaya.

Sebenarnya ada perubahan budaya yang diharapkan, bersifat positif bagi pembangunan bangsa dan generasi berikutnya seperti perubahan budaya kerja baik bagi organisasi pemerintah maupun organisasi masyarakat/swasta dalam bekerja atau memproduksi dan melayani masyarakat dalam dunia good governance yang dimiliki oleh tiga domain (negara, swasta dan masyarakat madani). Walau banyak terjadi pengaruh budaya negatif yang lebih mudah diterima oleh masyarakat yang merupakan masalah dan tantangan bangsa dalam membangun masyarakat yang maju dan modern.

Perubahan budaya tersebut sudah berada dihadapan kita, namun masalahnya budaya serta kebiasaan dan budaya asing yang tidak perlu ditiru namun lebih mudah merubah sikap dan perilaku, seperti; pergaulan bebas, sikap dan perilaku, kebiasaan dan sopan santun yang tidak sesuai dengan budaya sendiri, narkotika, kebebasan tidak terkendali dalam demokrasi. Bagi generasi tua akan merasakan perubahan sikap dan perilaku generasi berikutnya menyangkut sikap mental dan hilangnya rasa hormat terhadap kaum tua dibanding era sebelumnya.

Walaupun budaya bangsa Indonesia tercermin dalam filsafat Pancasila, yang berakar dari nilai-nilai luhur kebudayaan seluruh bangsa tercinta dari keanekaragaman budaya dalam kebhinekaan yang menjadi satu dalam hidup sebuah bangsa yang bersatu dalam kemajemukan. Saat ini perlu di terapkan kembali terutama kepada generasi muda, bila tidak ingin terjadi kerusakan lebih lanjut yang berujung pada disintegrasi dan kehancuran sebuah bangsa besar yaitu bangsa Indonesia.

Kenapa Orang Jepang Gila Kerja
Sebenarnya ada budaya asing yang mungkin dapat ditiru oleh generasi bangsa kita adalah budaya kerja yang merupakan sikap terhadap pekerjaan yang dianggap baik dan menyenangkan untuk dunia bekerja seperti sikap; rajin, jujur, giat, bersemangat, berinovasi, berkreasi, terbuka dan bertanggung jawab dan sikap positif lainnya.

Orang Jepang menamakan dengan sikap gila kerja, dibanding sikap dan kebiasaan lain yang negatif seperti; bermalasan, santai, tidak jujur, tidak kreatif dan tidak bertanggung jawab dan sebagainya. Hal ini tercermin dalam identitas bangsa Jepang yang produktif dan diakui oleh semua bangsa di dunia.

Disamping budaya kerja bangsa bangsa Jepang tersebut, budaya kerja bangsa lain seperti Korea, Taiwan, Cina dan Thailand serta Malaysia dan Singapura juga sudah maju dan berkembang dibanyak segi kehidupan; bidang ekonomi, sosial, politik dan lainnya. Namun budaya kerja bangsa kita secara umum masih tertinggal, walau sudah ada sebagian organisasi swasta dan pemerintah yang sudah merubah orientasi budaya kerja mereka lebih baik.

Pada dekade tahun-tahun sebelumnya kita sudah mengenal budaya kerja dengan penerapan mutu dan kualitas kerja dari Jepang dengan TQC (Total Quality Control), TQM (Total Quality Management), Quality Assurance, Value Added Management, Work Improvement Team, yang merupakan bagian dari budaya kerja dalam organisasi pemerintah maupun swasta. Kemudian seorang ahli dari Asian Institute of Management yaitu Prof. Emil P.Bolongaita, JR mengatakan bahwa pemerintah sebaiknya mampu mengakomodasikan pengalaman manajemen pemerintah dengan pengalaman manajemen bisnis dalam sebuah kombinasi dalam pelayanan yang disebut Total Quality Governance (TQG).

Bila digali dalam ajaran dan nilai-nilai agama Islam, jelas bahwa budaya kerja merupakan perintah Tuhan, melalui Surat Al Jumu’ah / 62:10 , Allah mengatakan yang artinya , bahwa…. Apabila telah ditunaikan Shalat, maka betebaranlah kamu dimuka bumi untuk mencari karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.

Dengan Ayat suci tersebut di atas, bahwa setiap orang Islam memahami kerja sebagai ibadah kepada Allah. Hal ini menyebabkan kerja adalah merupakan manifestasi bagian kehidupan manusia sebagai hal yang harus dilakukan dalam dunia kerja sebagai konsep pemikiran kerja adalah ibadah (Kutipan dari Buku Nilai dan Makna Kerja dalam Islam oleh Narasumber antara lain Prof Dr.Sayed Hosein Nasr, dkk

Baik secara ilmiah maupun secara nilai agama jelaslah bahwa kerja dengan membudayakannya dalam kehidupan masyarakat merupakan sebuah keharusan dalam menciptakan nilai-nilai dan kebiasaan orang dalam bekerja yang bermutu dan menjadikan kerja sebagai suatu hal yang lebih menyenangkan dari kegiatan lain.

Strategi Membangun dan Menerapkan Budaya Kerja
Sebagai budaya yang berisikan nilai-nilai dan kebiasaan hidup yang dilaksanakan oleh orang-orang dalam masyarakat bahkan suatu bangsa untuk membangun sebuah budaya yaitu budaya kerja memerlukan pengorbanan yang mungkin luar biasa untuk merubah nilai dan paradigma lama yang harus ditinggalkan oleh sebuah generasi. Perlu waktu dan perencanaan yang baik dalam jangka panjang, kalau mungkin jangka menengah untuk segenap organisasi masyarakat dan pemerintah.

Membangun budaya kerja sama saja dengan membangun diri sendiri setiap orang dalam bersikap terhadap pekerjaan apa saja yang dihadapi mereka. Perubahan sikap dan perilaku dalam bekerja akan menghasilkan mutu kerja yang baik serta pelayanan masyarakat yang optimal. Untuk itu perlu diawali dengan pendidikan termasuk sosialisasi yang merata dalam segenap unsur masyarakat dan pemerintah dengan aparaturnya.

Menurut cerita tentang sejarah Jepang setelah Perang Dunia II untuk membangun kembali semangat bangsa Jepang terutama perekonomian mereka, dengan mencari cara kerja baru mereka untuk menghasilkan produk yang bermutu. Dengan mendatangkan ahli dari Amerika Serikat antara lain; Prof Edward Deming dan Prof. DR. Juran. Teori kedua ahli tersebut diolah oleh Ahli Jepang sendiri yaitu Prof. Dr. Kauro Ishikawa sesuai aspek budaya Jepang sendiri melalui manajemen kualitas dengan berdasarkan kerja kelompo dan partisipatif. Keberhasilan Jepang dalam membangun ekomomi mereka merupakan dorongan bangsa lain untuk mengembangkan teori yang sama sesuai dengan budaya masing-masing seperti; Korea, Thailand, Taiwan, dan Singapura dan lainnya termasuk Indonesia sendiri.

Di Indonesia masalah budaya kerja ini sebenarnya sudah dimulai sejak beberapa decade sebelumnya, namun sampai sekarang masih jalan di tempat. Hal ini mungkin karena banyak terjadi perubahan rezim pemerintahan dan politik, sejak kemerdekaan 62 tahun yang silam. Hal ini menyebabkan penerapan budaya kerja ini masih belum bisa dilaksanakan.

Menurut pendapat penulis hal hal yang perlu di upayakan adalah melalui sinerjitas antara organisasi pemerintah dan swasta dalam upaya pendidikan budaya kerja baik secara pendidikan formil maupun pendidikan luar sekolah yang dijadikan sebuah budaya baru di bidang; semangat, sikap dan perilaku terhadap bekerja yang rajin, jujur, etos kerja tinggi, bertanggung jawab, bermutu, bekerjasama, dan professional dan disiplin.

Saat ini dalam organisasi pemerintah sudah dibuat kebijakan oleh Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara (Men .PAN), melalui Keputusan Men. PAN No.25/Kep/Men.PAN/4/2002, tgl.25 April 2002, Tentang Pedoman Pengembangan Budaya Kerja yang oleh Gubernur Sumatera Barat, dibuat Keputusan No.58 tahun 2004 tanggal 30 Desember 2004, tentang Pedoman Gerakan Disiplin Nasional Penerapan Budaya Kerja Aparatur di Lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Sedangkan kita masih menugggu hasil dari penerapan budaya kerja aparatur dalam setiap unit organisasi dalam struktur yang ditetapkan dalam peraturan daerah.

Tampaknya diperlukan pendidikan masyarakat disamping pendidikan formal untuk membudayakan budaya kerja secara missal dengan; memperbanyak kampanye budaya kerja melalui berbagai media; media massa (cetak dan elektronik), media tradisionil, media tetap muka, dan media lain melalui pembentukan kelompok kelompok budaya. Memperlombakan produk secara sehat dengan mutu yang baik dan dapat bersaing dengan mutu produk asing, serta memberikan reward bagi hasil produk yang mampu bersaing dan memuaskan pelayanan masyarakat. Memberikan semangat dan motivasi bagi setiap orang mempunyai sikap dan gila akan bekerja untuk memcapai mutu yang tinggi.

Pendidikan budaya kerja mulai dari rumah tangga dengan memberikan semangat dan disiplin bagi keluarga untuk menyelesaikan tugas secara optimal. Mengutamakan mutu kerja dari hasil asal jadi setiap keluarga dalam sebuah nilai budaya pada masing masing keluarga.

Juga diperlukan upaya menghilangkan paradigma lama dengan bermalasan dan bersantai dalam bekerja, walau kita temukan dalam organisasi pemerintah ada aparat uang bekerja siang malam tanpa memandang waktu untuk mencapai kinerja yang baik dalam tugas pokok dan fungsi masing masing. Hilangkan semangat bekerja karena mengharapkan jabatan tertentu yang menggiurkan dan tidak mau bekerja karena jabatan atau tugas tidak diingini karena tidak menggiurkan atau adanya iming iming yang tidak professional.

Tanamkan semangat professional dan etos kerja tinggi pada setiap generasi dengan boleh mencontoh bangsa lain yang maju karena budaya dan semangat kerja tinggi mereka dan hilangkan semangat ala mumpung yang bersifat egoisme dan menang sendiri.

Secara perlahan tapi pasti membangun budaya kerja generasi muda bangsa bukan tidak mungkin bisa terwujud dalam masa tertentu yang sulit dalam jangka pendek karena merubah sikap dan membangun nilai dan kebiasaan baru yang merobah pardigma lama yang masih melekat dalam beberapa generasi.

Kalau tidak bangsa kita tetap menjadi bangsa yang dianggap rendah oleh bangsa lain, seperti banyak kasus dalam tenaga kerja terutama menyangkut TKW dan lain sebagainya Masalah ini telah merendahkan identitas kita sebagai bangsa yang beradab dan berbudaya dalam hidup sejajar dengan bangsa lain didunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: