KEPEMIMPINAN DALAM RAGAM BUDAYA, Part III (Habis)

KERAGAMAN SEBAGAI KEKUATAN DAN KELEMAHAN.

Perilaku setiap anggota kelompok budaya tergantung pada sejarah orang-orang/individu dalam kelompok masyarakatnya. Pengalaman telah menunjukkan kegagalan belajar dari sejarah, dan kesalahan-kesalahan yang diulangi oleh beberapa generasi dalam waktu lama Akhirnya harus mengikuti seperangkat Norma dan nilai yang berdasarkan pengalaman dan perkembangan mereka.

Disamping pengaruh historis dan lingkungan, mentalitas suatu bangsa yang menentukan sifat dan karakteristik bahasa tertentu akan mempengaruhi luas terhadap perkembangan visi, misi, kharisma, emosi, perasaan politik, disiplin dan hirarki.

Kepemimpinan Individual dan Kolektif
Organisasi secara otomatis mengisyaratkan kepemimpinan yang mempunyai wewenang untuk menetapkan suatu peraturan sebagai pedoman bertindak. Bentuk baru kepemimpinan kolektif di pemerintahan baik pda tingkat regional dan lokal selama berabad abad.

Aturan kolektif penduduk mengilhami bentuk dan pola kepemimpinan pada daerah tersebut yang ditunjukan oleh faktor-faktor yang memimbulkan kepemimpinan dan organisasi masyarakat seperti :
Adat istiadat, lingkungan iklim, sejarah, agama, bahasa, filsafat yang mempengaruhi; fisiologi (penampilan fisik), sukses (perang, perdagangan, pertanian), Kegagalan (kekeringan, Invasi, Penyakit), yang merupakan reaksi terhadap kepemimpinan dan Konsep status dan Penggunaan Waktu Menimbulkan Organisasi (Visi, Misi, Norma, aturan, struktur, energi, wewenang, dan fungsi.) Tujuannya sebagai kelangsungan hidup menuju kemakmuran (cita-cita).

Organisasi biasanya diciptakan oleh pemimpin. Apakah kepemimpinan tersebut; otoriter, individual, atau kolektif yang berfungsi sebagai :

  1. Model fungsi Pengembangan jaringan (networking) ,
  2. Model fungsi oreantasi tugas.

Cara pemimpin dalam ragam budaya memahami organisasi antara lain dapat dikenali hal-hal :

  1. Bahasa dan budaya, dengan membentuk timkerja yang serasi dan padu diperlukan informasi tentang sejarah dasar daerah tersebut dengan cirri cirri kebudayaannya dan mempelajari bahasa daerah dalammembangun tim yang kuat dalam organisasi.
  2. Kekuatan non fisik, dimana akal sehat, pendidikan yang baik dan kedewasaan individu, akademik maupun organisasi yang merupakan sumber daya untukmenghindari perilaku yang negative sebagai mitra kerja. Tidakhanya mengandalkan kewenangan saja dalam memimpin organisasi /masyarakat.
  3. Mengelola Tim, karena semakin berkembang tim/organisasi tersebut secara nasional, international atau global, menyebabkan pengelolaan tim melalui koordinasi yang berbeda secara terus menerus (sesuai perkembangan). Pembentukan Tim building menjadi bahasan dalamm kajian manejemen.
  4. Latihan pembentukan tim, melalui banyak cara latihan yang pembentukan tim (team building excercises), organisasi bersifat multi nasional, disekolah sekolah bisnis yang mementingkan kerjasama tim dalam menelaah kasus seperti berkemah atau out bound (belajar diluar ruangan/alam terbuka).

Menjembatani Kesenjangan Komunikasi.
Yaitu melalui Komunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung (media) terdapat dialek atau pemahaman yang berbeda menyebabkan terjadi kesalah pahaman dalam berkomunikasi tersebut. Untuk perlu dipahami hal hal yaitu :

  1. Bahasa
  2. Kesenjangan Komunikasi, menyangkut aspek; linguistic, praktis dan budaya. Masalah praktis biasanya paling mudah dipecahkan oleh pemimpin bagaimana harus berprilaku di suatu daerah.
  3. Penyesuaian pola pikir, sebagai upaya pemimpin dalam menagdakan pertemuan yang yang menarik dan tidak membosankan sampai menghasilkan keputusan yang disepakati secara santai atau bermain dalam kelompok masyarakat, seperti main golf atau sambil makan malam, sarana hiburan rakyat dll.
  4. Nilai dan Citra diri, dengan beraneka ragamnya budaya budaya dalam masyarakat kita. Maka pimpinan harus melihat dalam kacamatan budaya keragaman terebut. Termasuk disini nilai nilai dan tradisi serta keagamaan dan ritual ritual kelompok budaya. Citra merupakan bagian persepsi nilai untuk melihat diri mereka melalui kacamata budaya dan kebiasaa serta adapt istiasat mereka.
  5. Etika, orang orang memadang keputusan sejak diputuskan merupakan perjanjian lisan yang dirumuskan menjadi dokumen tertulis yang legal. Secara etis orang terikat pada keputusan yang dibuatnya.

Keragaman Sebagai Kekuatan.
Keanekaragaman; ethnis, agama, adat istiadat, kebiasaan, bahasa daerah dan lainnya di Indonesia yang tumbuh dan berkembang sebagai nilai-nilai yang mengakar dalam kelompok kelompok masyarakatadalah sebagai kekuatan. Apabila dikelola dengan baik untuk menimbulkan kekuatan bangsa yang besar. Bagi pemimpin aspek inilah merupakan peluang dalam memainkan pola kepemimpinan yang bagaimana harus dilakukan dalam menghadapi masyarakat tertentu.

Selanjutnya keragaman tersebut akan menumbuhkan keterikatan keterikatan akan bidang; hukum, aturan atau dogma dogma agama yang dianut masyarakat. Karena itu seorang pemimpin perlu memahami kondisi tersebut dalam memimpin masyarakat tertentu. Disamping munculnya konflik konflik kepentingan antar kelompok tersebut dengan pembinaan rasa kesatuan bangsa (nation building) harus diutamakan dalam memimpin kelompok masyarakat dan masyarakat bangsa.

Keragaman Sebagai Kelemahan.
Keanekaragaman atau kemajmukan; ethnis, agama, adat istiadat, kebiasaan dll, apabila tidak dapat dibina dalam satu kesatuan yang bulat bukan tidak mungkin akan menimbulkan perpecahan. Dimulai dari perpecahan kecil menjadi semakin besar bila tidak pernah diantisipasi dengan upaya kepemimpinan dengan memperhatikan budaya untuk mempersatukan mereka dalam pembangunan menuju masyarakat yang sejahtera. Perpecahan yang cukup rawan; masalah keragaman agama, adat istiadat, perbedan suku/etnis/ras, perbedaan kebiasaan dll.

IMPLIKASI, KONSEKUENSI DAN KEMUNGKINAN MASALAH KEPEMIMPINAN DALAM KERAGAMAN.

Implikasi Kepemimpinan.
Saat ini organisasi masyarakat semakin bersifat keragaman (multi budaya), sejak kemerdekaan Indonesia 61 tahun. Lalu, Hal ini menyebabkan semakin kompleksnya masalah kehidupan dalam keragaman tersebut.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta komunikasi dan informasi semakin mewarnai kehidupan masyarakat. Menyebabkan kebudayaan didunia semakin berinteraksi secara global, mengakibatkan terjadi perubahan dibidang ekonomi, politik dan kebiasaan hidup baru yang melahirkan kenyataan terjadinya perubahan budaya dan pola kepemimpinan. Globalisasi media massa sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat modern dalam diri mereka akan perbaikan mutu kehidupan mereka.

Dr.Woodrrow Sears dalam buku Back In Working Order, dengan masalah ekonomi dengan memperkecil usaha, merger (gabung), joint venture merupakan contoh untuk menempatkan diri dalam situasi pasar.

Membantu orang orang bekerja lebih cerdik merupakan manejemen multy budaya yang efektif, maka kepemimpinan perlu:

  1. Menciptakan struktur yang memungkinkan orang orang ambil bagian dalam tujuan organisasi.
  2. Manegemen dirumuskan sebagai harapan/pengawasan yang menurut Sears berarti maneger maneger yang efektif menciptakan harapan atas pelaksanaan tugas dengan para bawahannya dengan hasil pekerjaan yang dilakukan.

Praktek manejemen multy budaya menurut McGregor (Humas Side of Interprice) bahwa setelah 40 tahun. Para ilmuwan di bidang perilaku manusia (behaviore) menyampaikan pesan tsb. Baru sekaranglah mulai menterjemahkan ide-ide tersebut dalam tindakan (organisasi). Pemimpin ragam budaya sejati adalah pimpinan yang inovatif, yang menjadi komunikator dan negosiator antar budaya yang efektif dalam berbagai lingkungan masyarakat.

Ciri ciri manajer multi budaya adalah ;

  1. Berfikir melampaui persepsi lokal
  2. Siap untuk mengganti dengan pemikiran baru dan membuang pemikiran lama.
  3. Menciptakan kembali norma-norma dan praktek budaya dengan hal yang baru.
  4. Memprogram kembali peta dan bangunan mental mereka.
  5. Menyesuaikan diri dengan lingkungan dan gaya hidup yang baru.
  6. Menyambut baik pengalaman linta budaya bangsa.
  7. Kemampuan akan kecakapan multy budaya.
  8. Menciptakan sinerja budaya kapan dan dimana saja.
  9. Bekerja efektif dalam lingkungan multy nasional/bangsa
  10. Memimpin kesempatan kesempatan dan usaha transnasional.
  11. Menciptakan scenario masa depan yang optimis.
  12. Mempelajari hubungan antar manusia /bangsa dan nilaimglobal.
  13. Terbuka dan fleksibel dalam menghadapi orang orang yang beragam budaya.
  14. Mudah bergaul dengan orang yang berbeda latar belakang; ras dan lainnya.
  15. Fasilitator pendatang baru, orang asing, kaum minoritas dan imirgran.
  16. Sudi bekerjasama dalam joint venture, konsorsium atau koalisi.
  17. Perubahan direncanakan dan futuris.

Konsekuensi Kepemimpinan Dalam Ragam Budaya.
Perkembangan berfikir dan aspirasi.
Masyarakat yang saat ini mudah mendapat informasi, dapat menyampaikan keinginan mereka kepada pemerintah di era keterbukaan melalui aspirasi-aspirasi tertentu. Konsekuensinya bagi pemerintah/pimpinan adalah untuk mendengarkan secara baik dan merespon secara baik sesuaidengan ketentuan dan kehendak orang/warga lebih banyak dalam kelompok msyarakat.

Perkembangan Kepentingan Pribadi, Kelompok, Ethnis.
Kepemimpinan yang diharapkan dalam Konsekuensi adanya perkembangan tersebut secara keserasian dan suasana demokratis dan terbuk.

Berkembangnya Regionalisme.
Kecenderungan adanya perkembangan bersifat negative dari berlakunya UU No.22 tahun 1999 dan saat ini di revisi dengan UU N0.32 tahun 2004 yaitu dimana masing-masing daerah (region) dengan semangat otonomi dengan munculnya konflik kepentingan dalam dan antar daerah. Sehingga egoisme daerah sangat menonjol, walau ada kerjasama antar daera.

Masalah-Masalah Kepemimpinan dalam Ragam Budaya

  1. Perbedaan adapt istiadat dan kebiasaan.
  2. Hambatan komunikasi pada masyarakat tertentu.
  3. Kemampuan Kepemimpinan dalam ragam budaya.
  4. Adanya sumber sumber yang ada di daerah dengan erbedaan yang mencolok.

KEPEMIMPINAN YANG TEPAT DALAM PENGELOLAAN MASALAH KERAGAMAN.

Pemimpin dan Kepemimpinan
Pemimpin adalah orang yang memiliki kemampuan / keterampilan untuk mempengaruhi atau menggerakkan perilaku orang lain untuk bekerja secara efektif dan efisien. Melalui kopentensi pemimpin yaitu :

  1. Kompetensi Tehnis, bersifat keterampilan dan kemampuan khusus/tehnis.
  2. Kompetensi menejerial, bersiaft mulai dari perencanaan, pengorganisasian, Penggerakan dan pengawasan.
  3. Kompetensi sosial, kemampuan untuk berintekrasi dengan orang lain.
  4. Kompetensi strategi, kemampuan untuk melihat jauh kedepan dan merumuskan Masalah dan strategi.
  5. Kemampuan Etika, dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: